
Sembilan orang rider ITB79 touring dari Bandung ke Batu Karas pada tanggal 13 Oktober 2020.
- DodoRukandi Bandung
- Mbah Mahfudz
- Wisnu Wardana
- Ali Abdulkadir
- Andjar Firmansjah
- Siswanda Harso Sumarto
- Andi Alisjahbana
- Yogi Triyogo Atmodipoero
- Sukamto Agoeng
Ada 3 orang rider malah memulai perjalanan dari Jakarta yaitu Wisnu Wardana, Ali Abdulkadir dan Sukamto Agoeng.
Kami memulai perjalanan dari Bandung. Urutan pada video adalah Dodo, Amhfudz, Wisnu, Ali, Andjar, Siswanda, Andi, Yogi dan Sukamto.
Kami memulai perjalanan dari Bandung sekitar jam 6 pagi dengan harapan trafik lalu lintas keluar Bandung belum padat. Perjalanan ke daerah Kamojang kami lalui melalui daerah Sapan terus ke ujung kota Majalaya. Sejak jalan raya Sapan kami sudah disuguhi pemandangan alam pesawahan.

Pit stop pertama kami adalah Jembatan Ibun (Kamojang Hill Bridge). Jembatan ini menjadi ciri khas awal mulainya daerah Kamojang. Kabut mulai muncul dan semakin tebal ketika sampai ke daerah PLTP Kamojang. Kabut tebal menemani perjalanan kami menyusur jalan di sebelah barat kaki gunung Guntur. Mendekati daerah pertigaan Samarang berangsur-angsur kabut mulai menipis dan menghilang.
Tujuan kami berikutnya sekaligus pit stop kedua adalah Haligu Coffee yang terletak di Cidatar, Garut. Pemilik Harigu Coffee adalah junior ITB82.

Di Haligu Coffee kami disuguhi kopi asli dari gunung Papandayan dan gunung Cikuray. Campuran kopi dibuat memang nikmati. Apalagi diseduh langsung dan diminum ditengah udara dingin Cidatar.
Tujuan perjalanan berikutnya adalah Cilauteureun, pit stop ketiga hari pertama.
Setelah pit stop kedua di daerah Cidatar, kami melanjutkan perjalanan ke pit stop ketiga di daerah Cilauteureun. Tidak berapa lama kemudian di daerah Pamegatan, hujan mulai turun memaksa kami berhenti sebentar untuk memakai jas hujan.
Perjalanan dilanjutkan melewati jalan Cisompet yang berkelok disertai hujan gerimis dan kabut yang tebal. Disini pentingnya pemotor didepan memastikan pemotor dibelakangnya selalu terlihat. Dengan perlahan dan kehati-hatian kami melewati jalan berkelok tersebut.
Sebelum sampai di Cilauteureun kami berhenti beberapa kali karena ada beberapa ruas jalan yang longsor dan hanya bisa dilalui kendaraan secara bergantian. Akhirnya kami sampai di Cilauteureun dan bisa menikmati makan siang di RM Cilauteureun yang enak.
Perjalanan dari Cilauteureun ke Batu Karas relatif lurus dan datar. Jalan Jalur Lintas Selatan Jawa Barat yang mulus kami jalani melalui Cipatujah, Sindangkerta, melewati Green Canyon sebelum sampai di Batu Karas.Kami melewati Sasak Gantung Cijulang sebelum akhirnya sampai di penginapan Shane Josa Resort, tempat kami menginap. Sebenarnya kami tidak perlu melewati Sasak Gantung Cijulang yang hanya bisa dilalui motor satu per satu, tapi entah kenapa gmap menyarankan kesana.

Setelah beristirahat, kami menyusuri pantai Batu Karas dan menikmati makan malam di RM Kang Ayi. Pastilah menunya makan sea food, ikan bakar dan udang saus tiram serta tumis genjer kesukaan.

Perjalanan hari pertama dari Bandung ke Shane Josa Resort di Batu Karas sejauh 236 km ditempuh dalam waktu sekitar 8 jam 2 menit sudah termasuk istirahat dan makan.
Pagi hari sebelum makan pagi, saya sempat briskwalk ke Pantai Batu Karas. Lumayan dapat sekitar 3 km dari Shane Josa Resort ke Pantai Batu Karas pulang pergi.Setelah makan pagi, mulailah kami berfoto ria di sekitar penginapan. Tentu saja ketika difoto kami melepas masker tapi dengan menahan nafas. Ada juga keuntungan lain ketika menahan nafas, perut bisa dikempeskan. ![]()

Jembatan Ibun 
Haligu Coffe 
RM Kang Ayi, Batu Karas 
Pantai Madasari
Tujuan pertama pagi itu adalah mengisi BBM di SPBU kota Cijulang. Kota Cijulang mengingatkan saya akan masa-masa kecil dan remaja saya. Bagaimana ketika kecil saya selalu berlebaran di rumah kakek dari ibu di desa Binangun, Cijulang dan rumah kakek dari ayah di desa Margacinta, Parigi. Bagaimana ketika remaja menghabiskan waktu perpanjangan 6 bulan ketika SMA untuk menyendiri dan belajar diantara deburan ombak pantai Batu Karas.
Pit stop pertama hari kedua adalah pantai Madasari, yang akan dituju memutar melalui pantai Legok Jawa. Apalagi kalau bukan berfoto-ria sambil menikmati hembusan angin di pinggir pantai.
Perjalanan dilanjutkan dari pantai Legok Jawa ke pit stop kedua, Warung Nasi Teh Mumut di daerah Ciheras, Cipatujah. Warung nasi ini dimiliki oleh wanita pengusaha muda yang baru lulus dari SMK. Makanan prasmanannya enak, bahkan ketika kami makan ada bule datang ikut makan disitu. Ternyata memang dia sudah biasa makan di warung teh Mumut.
Warung nasi ini tidak jauh dari padepokan Ricky Elson, Lentera Bumi Nusantara. Kami sempat mengundang Ricky untuk bergabung makan siang di warung teh Mumut.
Kami juga mengunjungi padepokan Ricky sambil melihat-lihat kincir anginnya menari-nari di langit. Sempat juga berkenalan dengan dek Inayah, junior TI2006, yang sedang merancang generator disana. Ketika kami pamitan malah Ricky memberi oleh-oleh untuk mas Sis dan kang Andi. Hatur nuhun.Jalan lintas selatan Jawa Barat yang mulus membawa kami menuju pit stop ketiga yaitu mesjid Al-Jabbar di daerah Rancabuaya.
Perjalanan dari warung nasi teh Mumut menuju pit stop ketiga hari kedua di Masjid Al-Jabbar Rancabuaya ditempuh dalam waktu 1 jam. Jalan Lintas Selatan Jawa Barat yang mulus, membawa kami melewati hutan Lindung Sancang, pantai Cijeruk Indah dan pantai Santolo.
Kami berhenti di Masjid Al-Jabbar untuk istirahat dan sholat. Masjid Al-Jabbar di Rancabuaya ini sangat besar dan terlihat dari kejauhan karena ciri khas arsitekturnya.
Pemberhentian berikutnya adalah SPBU di Pantai Jayanti. Kami mengisi bahan bakar di SPBU ini karena SPBU berikutnya yang terdekat ada di daerah Ciwidey, berjarak hampir 80 km.Kami melanjutkan perjalanan ke arah Cidaun kemudian belok kanan ke arah Ciwidey. Jalan Cidaun-Ciwidey menurut saya adalah jalan terberat dalam riding kali ini. Jalannya agak kecil dan berbelok-belok.
Perjalanan dari Cidaun ke Ciwidey dengan tujuan Rumah Makan Kopi Patua sebagai pit stop ke empat hari kedua. Jarak antara SPBU Pantai Jayanti ke Kopi Patua yang terletak di daerah Cigadog, Ciwidey sekitar 58 km, jarak tersebut ditempuh dalam waktu 1 jam 59 menit, hampir 2 jam.
Jalan Cidaun Ciwidey agak kecil dan penuh dengan kelokan tajam. Apalagi kami baru mulai jalan dari Cidaun sekitar jam 16. Agak sore memang. Jalan tersebut kami tempuh dengan perlahan dan penuh kehati-hatian karena penuh dengan kelokan tajam. Tidak heran kalau kecepatan rata-rata kami dari Cidaun menuju Ciwidey sekitar 30 km per jam. Saya tidak menyarankan bagi orang yang baru belajar riding melalui jalan ini.
Walaupun kami sampai di Kopi Patua sekitar jam 18, suasana di jalan cukup gelap karena tidak ada lampu jalan. Saya cukup lega sampai di Kopi Patua setelah merasakan riding selama 2 jam yang penuh dengan kelokan tajam. Tentu saja nikmatnya Kopi, Bandrek, Bajigur serta gorengan pisang di Kopi Patua mampu menghilangkan keletihan 2 jam perjalanan di jalan Cidaun Ciwidey.
Etape terakhir adalah dari Kopi Patua menuju warung nasi C’mar yang berada di sekitar jalan Cikapundung, Bandung. Kami makan malam di C’Mar sambil bercerita tentang pengalaman masing-masing selama dua hari riding ke Batu Karas.

Perjalanan hari kedua, Batu Karas Bandung sejauh 284 km ditempuh dalam waktu 7 jam 36 menit.
Terima kasih kepada rekan-rekan Riding ITB79 yang telah sama-sama menikmati perjalanan ini.

